Kamis, 19 Januari 2012

Resensi Novel Motivasi Islami


Negeri 5 Menara
Pengarang : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : III / 2009
Tebal buku : 420 hal
Genre : Novel Motivasi Islami


Sinopsis Cerita :
Keinginannya bertentangan dengan Amak. Alif Fikri selalu bercita-cita ingin seperti Habibie dengan pesawatnya, sementara Amak menginginkan anak laki-laki satu-satunya itu menjadi seperti Buya Hamka seorang ulama, pemimpin agama yang berpengetahuan luas.


Alif tak berani membantah keinginan Amak terang-terangan karena takut durhaka. Sebagai aksi protesnya Alif memilih diam dan memeram dalam kamar. Sayang keputusan Amak agar Alif melanjutkan ke sekolah agama tak sirna. Hingga akhirnya sebuah surat dari seseorang, mencetuskan ide yang cukup frontal. Alif bersedia sekolah agama dengan syarat mondok di luar Jawa.


Aturan yang sangat ketat dalam pondok membuat Alif cukup tersiksa. Belum ada satu minggu, ia dan lima orang teman sekamar sudah mendapat hukuman atas pelanggaran aturan. Keputusan setengah hati masuk Pondok Madani (PM) semakin membuatnya merana, apalagi surat dari Randai sobat sekaligus rival dalam hal prestasi semasa SMP selalu menceritakan betapa indah kehidupan di SMA.


Kata-kata motivasi dari para ustad dan penghiburan dari teman baru Alif, Raja, Baso, Said, Dulmajid, dan Atang cukup berhasil mengusir gundah yang menyekam. Bersama kelima sahabatnya itu Alif sering berkumpul dibawah menara masjid untuk belajar, mengobrol, diskusi serius dan merenda mimpi tinggi hingga ke angkasa.


Sahibul Menara adalah julukan mereka berenam. Sahibul Menara dengan awan impian mereka. Awan yang mereka jadikan peta langkah mereka kelak. Alif dengan peta awan Amerika, Raja memetakan awan menjadi Eropa, Baso dan Atang melihat awan seakan melihat jejak para nabi di Afrika dan Asia. Sementara Said dan Dulmajid lebih suka awan Indonesia negeri mereka tercinta.


Selama 4 tahun mereka belajar, berjuang dan berpetualang dalam PM. Mulai dari menjadi jasus karena hukuman, menjadi bulis lail, menjadi petugas penjaga aturan, berusaha menampilkan Class Six Show yang tak akan terlupakan oleh siapa pun, persiapan ujian akhir yang menguras tenaga dan pikiran sampai kenangan kehilangan teman yang terpaksa mundur dari PM menjelang ujian akhir. 


Kelebihan :
-Banyak mengandung pesan baik secara tersurat atau tersirat. Dan yang paling menonjol adalah mantera Man Jadda Wajadda.
-Alur cerita mendetail, penggambaran tentang sesuatu tampak nyata dan meyakinkan. 
-Penggunaan kata sangat bervariasi.


Kelemahan :
-Terlalu banyak bahasa asing. Kadang jadi tidak mengerti artinya walau sudah diterjemahkan di depan tapi jika muncul kembali di belakang tanpa keterangan arti jadi tak tahu maksudnya alias lupa arti kata asing tersebut.
-Ada beberapa pengulangan kalimat (situasi) yang mungkin maksudnya menjelaskan dengan lebih mendetail, tapi jadinya pemborosan dan terasa sedikit membosankan. 


Kesimpulan :
Cerita yang sangat memotivasi kadang menyentuh, kadang menggelikan. Menampilkan kehidupan pondok pesantren dengan lugas dan cerdas. Mantera Man Jadda Wajadda sanggup menggugah pembaca agar mau lebih bersungguh-sungguh dalam mengejar cita-cita.


Saran :
-Keterangan bahasa ditambah lagi, atau dibuatkan kamus di belakang. Jadi jika ada kata yang tidak mengerti langsung bisa cari di belakang. Tidak perlu mencari tiap lembar di depan yang ada penjelasan tentang kata asing tersebut.
-Pengulangan situasi cukup satu kali secara lengkap sekalian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar